Header Ads

Laporan Praktikum Klasifikasi Bahan Pakan 8 Klasifikasi Bahan Pakan

Laporan Praktikum Klasifikasi Bahan Pakan

Hallo, selamat malam, di kesempatan akan menjelaskan tentang 8 klasifikasi bahan pakan Laporan Praktikum Klasifikasi Bahan Pakan yuk baca lebih rinci

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.        Pengertian Pakan

              Pakan adalah suatu bahan pakan atau campuran bahan pakan yang dimakan hewan atau ternak serta mengandung energi, protein, dan nutrien lainnya yang dibutuhkan oleh hewan atau ternak.

2.2.        Klasifikasi Bahan Pakan Secara Internasional

2.2.1.     Hijauan kering dan jerami

              Hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja dikeringkan (hay) ataupun jerami kering (AAK, 1983). Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan lama disimpan lebih lama. Termasuk hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang, jerami jagung, dan sebagainya yang biasa digunakan pada musim kemarau (Djarijah, 1996). Kelas hijauan kering dan jerami mengikutsertakan semua hijauan dan jerami yang dipotong dan dirawat, dan produk lain dengan lebih dari 10% serat kasar dan mengandung lebih dari 35% dinding sel. Pada umumnya jerami (misalnya jerami padi, jerami jagung) sangat rendah dalam kualitasnya sebagai sumber zat makanan (terutama sangat rendah dalam kadar protein, energi, karoten, dan fosfor) (Parakkasi, 1986). 

2.2.2.     Hijauan dan hijauan segar

              Hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hijauan yang diberikan dalam bentuk segar. Termasuk hijauan segar ialah rumput segar, leguminosa segar dan silage (AAK, 1983). Yang termasuk kelas ini adalah semua tanaman yang diberikan secara segar sebagai hijauan atau hijauan segar (Tilman et al., 1982). Kadar air berkisar antara 70-80% dan sisanya adalah bahan kering dan sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak. Daun nangka termasuk hijauan segar dan baik untuk pakan ternak karena banyak kandungan zat yang bermanfaat bagi ternak. Daun gamal dapat digunakan sebagai pakan ternak, tanaman peneduh dan pembasmi alang-alang.

2.2.3.     Silase

              Silase merupakan hijauan segar yang disimpan dalam silo dengan tujuan diberikan kepada ternak pada waktu sulit untuk mendapatkan atau pada musim pacelik. Yang termasuk dalam kelas ini adalah semua makanan yang dipotong-potong atau dicacah-cacah dan difermentasikan (Tilman et al., 1982). Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Contoh silase yang telah memasyarakat anatara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi (Drarijah, 1996). Kelas ini menyebutkan hijauan dan disebut dengan silase jagung (jagung, alfafa, rumput dan sebagainya). Silase memiliki bentuk kasar, warna hijau dan agak asam karena proses fermentatif. Silase hijauan pakan merupakan bahan pakan yang berasal dari hijauan yang telah mengalami fermentasi didalam silo anaerob, dan mengandung bahan kering 30-35%.

2.2.4.     Sumber energi

              Termasuk dalam kelas ini adalah bahan-bahan dengan kandungan protein kasar kurang dari 20% dan serat kasar kurang dari 18% atau kandungan dinding selnya kurang dari 35% (Tilman et al., 1982). Pada umumnya bahan makanan yang dimaksud mempunyai kadar protein sekitar 12% yang mana 75-80% dapat dicerna. Sorgum mengandung kadar tannin relatif lebih tinggi dibanding dengan varietas lainnya yang menyebabkan kurang disukai ternak apabila pemberiannya cukup tinggi dalam ransum. Dedak halus atau lunteh adalah dedak yang diperoleh dari pengayakan hasil ikutan dari penumbukan padi gelombang kedua dan ketiga atau dari hasil pengasahan pertama atau kedua (bila menggunakan mesin pengasah). Dedak kasar adalah dedak padi yang diperoleh dari hasil penumbukan pertama atau dari penggilingan (kalau menggunakan mesin pengupas kulit) dan merupakan dedak dengan kualitas yang rendah (Parakkasi, 1990). Jagung mempunyai nilai energi yang tinggi dan kadar fosfor pada jagung rendah dibanding biji-bijian lain. Jagung kuning juga kaya akan provitamin A. Molases atau tetes adalah produk sampingan pembuatan gula pasir dari tebu dan mempunyai sifat menyedapkan bahan makanan lain yang kurang enak dimakan serta mempunyai sifat laksans, sehingga baik digunakan bersama bahan-bahan makanan yang mempunyai pengaruh konstipasi dan tetes juga rendah protein (Parakkasi, 1986).

 2.2.5.     Sumber protein

              Makanan sumber protein adalah semua makanan yang mempunyai kandungan protein 20% atau lebih dan dapat berasal dari tanaman, hewan, ikan dan susu (Tilman et al., 1982). Bahan makanan sumber protein, yaitu bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kedelai dan bungkil Lijin zaad. Bungkil kepala rendah akan lisin, murah dan rendahnya kadar proteinnya. Bungkil kacang tanah, kadar proteinya tinggi dan kualitasnya pun lebih baik daripada bungkil kelapa. Bungkil kedelai tinggi akan protein, kualitas proteinnya pun baik, akan tetapi rendah akan Ca dan P serta tidak mengandung viatamin A ataupun D (Parakkasi, 1986). Tepung daging adalah produk kering dari jaringan mamalia tanpa bulu, kuku, tanduk, sisa-sisa kulit dan isi saluran pencernaan dan tidak mengandung darah. Tepung darah digunakan sebagi suplemen protein berkisar 2-3% dalam ransum. Tepung udang kadar protein kasarnya sekitar 45% dan kualitasnya lebih baik dari tepung daging. Tepung ikan, kandungan asam amino esensial yang menonjol adalah ariginin, glisin, leusin, isoleusin, lisin, dan valin.  Tepung bulu unggas nilai proteinnya lebih tinggi atau lebih bermanfaat (Parakkasi, 1990).

2.2.6.     Sumber mineral

              Mineral merupakan komponen dari persenyawaan organik jaringan tubuh lainnydan persenyawaan kimiawi lainnya yang berperan alam proses metabolisme. Kebutuhannya sangat sedikit tetapi sangat vital, terutama pada proses tumbuh dan bereproduksi penyusunnya yaitu kalsium dan fosfor. Tepung kerang memiliki warna hitam keabuan, berbau amis karena termasuk dalam hewan laut dan memilki rasa asin dan juga digunakan sebagai sumber kalsium yang penting untuk unggas pedanging dan unggas yang sedang bertelur dengan kadar kalsium yang cukup besar yaitu 38% dan kandungan nutrien lainnya yaitu 1,2% BETN, 46,7% PK, dan 86% BK. NaCl atatu garam dapur sebagai sendimen atau perangsang nafsu makan yang dikarenakan garam dapat merangsang sekresi enzim saliva dan mengaktifkan enzim yang terdapat dalam saliva dan diastase lainnya (Parakkasi, 1990).

2.2.7.     Vitamin

              Vitamin adalah senyawa organik, biasanya tidak disintesis oleh jaringan tubuh tetapi diperlukan dalam jumlah yang sedikit. Vitamin ini digunakan sebagai koenzim dan regulator metabolisme. Vitamin A, D, E, K adalah vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin A terdapat dalam bahan makanan nabati secara aktif akan tetapui bentuk provitamin (karoten). Vitamin E diperlukan untuk menjaga penyimpanan karkas dalam tubuh (Parakkasi, 1990).

Vitamin C tidak dapat disentisis oleh tubuh jadi sangat diperlukan dalam ransum. Vitachik merupakan preparat sintesis yang mengandung vitamin C yang berbentuk serbuk atau tepung dan berwarna kuning keorangean dan diperlukan oleh ternak khususnya unggas. Vitachik memilki bau yang khas obat karena berasal dari bahan-bahan kimia sehingga memiliki rasa pahit bila dimakan. Meskipun pahit, tetapi vitachik dibutuhkan oleh ternak untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak dan diberikan sesuai dosis (Drarijah, 1996).

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak Dasar dengan materi Pengenalan Bahan Pakan Ternak dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 7 Desember 2013 pukul 09.00–11.00 WIB di Laboratorim Ilmu Nutrisi Ternak Dasar, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.                

Materi

              Alat yang digunakan dalam praktikum adalah bahan pakan berdasarkan klasifikasi internasional yang bertujuan untuk memahami bentuk fisik setiap bahan pakan. Berdasarkan sifat karakteristik fisik dan kimianya, serta penggunaanya secara internasional bahan pakan dibagi menjadi delapan kelas, yaitu: 1)hijau kering dan jerami. 6) pasture atau hijauan, 3) sumber energy, 4) sumber protein, 5) sumber mineral, 7) sumber vitamin, 8) zat aditif. Praktikan diharapkan dapat mengetahui perbedaan akan setiap bahan pakan yang diteliti.

1.2.        Metode

              Metode yang digunakan dalam praktikum adalah masing-masing anggota kelompok mempelajari tentang contoh-contoh bahan pakan, menggolongkan bahan pakan sesuai kelas bahan pakan, melihat ciri-ciri bahan pakan meliputi warna, bentuk, rasa, dan bau, menuliskan data hasil pengamatan pada lembar pengamatan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.        Pengenalan Bahan Pakan

No

Bahan Pakan

Kelas

Warna

Bentuk

Rasa

Bau

1

Rumput Gajah

1

Coklat

helaian

Hambar + manis

khas

2

Rumput Benggala

1

Coklat muda

helaian

Hambar

khas

3

Kulit singkong

1

Coklat + putih

lembaran

Hambar (sepet)

Khas ubi

4

Tongkol jagung

1

Krim

batang

Hambar + manis

Khas jagung

5

Daun gamal

1

Hijau kering

lembaran

Hambar

khas

6

Jerami jagung

1

Hijau muda

Potongan lembaran

Hambar + manis

khas

7

Daun senttro

1

Coklat muda

lembaran

Hambar

khas

8

Kulit kacang

1

Krim

Kulit kacang

Hambar

khas

9

Kulit pisang

1

Kuning busuk

helaian

Sepet + manis

Khas pisang

10

Jerami padi

1

Krim

helaian

Hambar

Khas padi

11

Alang-alang

2

Hijau

Lembaran panjang

Hambar

Tidak berbau

12

Daun lamtoro

2

Hijau

pipih

Hambar

Laporan Praktikum Klasifikasi Bahan Pakan

khas

13

Rumput lapangan

2

Hijau

Lembaran memanjang

Hambar

khas

14

Daun gamal

2

Hijau

lembaran

Pahit

khas

15

Daun kelapa

2

Hijau

Lembaran memanjang

Hambar

Tidak berbau

16

Rumput gajah

2

Hijau

helaian

Hambar

khas

17

Daun jagung

2

Hijau

lembaran

Hambar

khas

18

Kalopo

2

Hijau

menjalar

Hambar

khas

19

Beras

4

Putih

butiran

Manis

khas

20

Dedak

4

Coklat

serbuk

Hambar

khas

21

Singkong

4

Putih kelam

lonjong

Hambar

khas

22

Molasses

4

Hitam coklat

Cairan kental

Manis

khas

23

Jagung

4

Kuning

butiran

Hambar + manis

khas

24

Sorghum

4

Putih kusam

butiran

Hambar

khas

25

Tepung ikan

5

Coklat tua

Serbuk kasar

Pahit

asin

26

Kacang hijau

5

Hijau

butiran

Hambar

Tidak berbau

27

Kacang tolo

5

Coklat

butiran

Pahit

Tidak berbau

28

Kacang tanah

5

Coklat

butiran

Pahit

khas

29

Bungkil kelapa

5

Coklat tua

Tidak beraturan

Hambar

khas

30

Kedelai

5

Coklat muda

butiran

Laporan Praktikum Klasifikasi Bahan Pakan

Hambar

khas

31

Cangkang telur

6

Coklat

remahan

Hambar

Amis telur

32

Cangkang bekicot

6

Coklat

remahan

Hambar

khas

33

Kapur gamping

6

Putih

Serbuk kasar

Pahit

khas

34

Tepung tulang

6

Putih

serbuk

Hambar

amis

35

NaCl

6

Putih kusam

serbuk

Asin

Khas garam

36

Tomat

7

Merah

lonjong

Manis

harum

37

Toge

7

Putih kusam

memanjang

Gurih

khas

38

Wortel

7

Orange

memanjang

Manis

khas

39

Jeruk nipis

7

Hijau

bulat

Asam

khas

40

Vit B12

7

Orange

tablet

Pahit

khas

41

Vitachik

7

Kuning

serbuk

Pahit

khas

42

Kencur

8

Putih

siung

Pahit

khas

43

Daun papaya

8

Hijau

Daun menjari

Pahit

khas

44

Kunyit

8

Orange

siung

Pahit + pedas

khas

45

Jintan hitam

8

Hitam

bubuk

Pahit

khas

46

Jahe

8

Coklat kuning

siung

Pedas

khas

47

Jeruk nipis

8

Hijau

bulat

Asam

khas

48

Wortel

8

Orange

memanjang

Manis

khas

              Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil yaitu bahan pakan secara internasional terdiri atas kelas hijauan kering dan jerami, hijauan dan hijauan segar, silase, sumber energi, sumber protein, sumber mineral dan vitamin.

4.1.        Hijauan Kering dan Jerami

              Berdasarkan hasil praktikum memperoleh hasil bahwa bahan pakan yang termasuk kelas pertama adalah hijauan kering dan jerami yang termasuk kedalamnya adalah kulit pisang yang mengandung tannin bebas. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1990) yang menyatakan bahwa kulit pisang yang mengandung tannnin yang bebas dan dirubah menjadi tannin tidak bebas.

 4.2.        Hijauan dan Hijauan Segar

              Berdasarkan hasil praktikum memperoleh hasil bahwa bahan pakan dalam kelas kedua adalah hijauan segar yang termasuk kedalamnya adalah daun lamtoro, rumput lapangan, daun gamal, daun kelapa, rumput gajah, daun jagung, alang-alang segar, kalopo.

4.3.        Sumber Energi

              Berdasarkan hasil praktikum memperoleh hasil bahwa bahan pakan yang kelas keempat adalah sumber energi yang termasuk adalah sorgum, jagung, beras, dedak, molases. Sorgum bagi sebagian hewan ternak kurang disukai. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1990) yang menyatakan bahwa sorgum mengandung kadar tannin relatif lebih tinggi dibanding dengan varietas lainnya yang menyebabkan kurang disukai ternak apabila pemberiannya cukup tinggi dalam ransum. Molases merupakan hasil ikutan dari pabrik gula (tebu). Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1986) yang menyatakan bahwa molases atau tetes adalah produk sampingan pembuatan gula pasir dari tebu dan mempunyai sifat menyedapkan bahan makanan lain yang kurang enak dimakan serta mempunyai sifat laksans, sehingga baik digunakan bersama bahan-bahan makanan yang mempunyai pengaruh konstipasi dan tetes juga rendah protein. Jagung merupakan sumber energi yang sering dipakai dalam ransum ternak karena kaya akan provitamin A. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1986) yang menyatakan bahwa jagung juga kaya akan provitamin A. 

4.4.        Sumber Protein

              Berdasarkan hasil praktikum memperoleh hasil bahwa bahan pakan dalam kelas kelima adalah bahan pakan yang mengandung sumber protein, yang termasuk didalamnya adalah tepung ikan yang kaya akan asam amino esensial.  Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1990) yang menyatakan bahwa tepung ikan, kandungan asam amino esensial yang menonjol adalah ariginin, glisin, leusin, isoleusin, lisin, dan valin. Bungkil kelapa rendah akan lisin. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1986) yang menyatakan bahwa bungkil kepala rendah akan lisin, murah dan rendahnya kadar proteinnya

 4.5.        Sumber Mineral

              NaCl atatu garam dapur sebagai sendimen atau perangsang nafsu makan yang dikarenakan garam dapat merangsang sekresi enzim saliva dan mengaktifkan enzim yang terdapat dalam saliva dan diastase lainnya (Parakkasi, 1990).

4.6.        Vitamin

              Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil bahwa vitamin A dapat diperoleh dari wortel yang mengandung karoten. Hal ini sesuai pendapat Parakkasi (1990) yang menyatakan bahwa didalam vitamin A terdapat bahan makanan nabati secara aktif akan tetapi bentuk provitamin (karoten). Vitamin C terdapat dalam vitachik. Hal ini sesuai pendapat Drarijah (1996) yang menyatakan bahwa Vitamin C tidak dapat disentisis oleh tubuh jadi sangat diperlukan dalam ransum. Vitachik merupakan preparat sintesis yang mengandung vitamin C yang berbentuk serbuk atau tepung dan berwarna kuning keorangean dan diperlukan oleh ternak khususnya unggas. Vitachik memilki bau yang khas obat karena berasal dari bahan-bahan kimia sehingga memiliki rasa pahit bila dimakan. Meskipun pahit, tetapi vitachik dibutuhkan oleh ternak untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak dan diberikan sesuai dosis.

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja & Perah. Penerbit Kanisiuns: Yogyakarta.

Djarijah, A. S. 1996. Teknologi Tepat Guna Usaha Ternak Sapi. Penerbit Kanisus:

Yogyakarta.

Parakkasi, A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik Vol.1. UI

Press: Jakarta.

Parakkasi, A. 1990. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa:

Bandung.

Tilman et al., 1982. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press:

Yogyakarta.



Oke pembahasan tentang Laporan Praktikum Klasifikasi Bahan Pakan semoga info ini menambah wawasan terima kasih

Sumber ini diposting pada label

postingan ini bersumber dari https://go-livestock.blogspot.com/2016/10/laporan-praktikum-klasifikasi-bahan.html

Dan bila anda membutuhkan mesin pengolahan pakan pelet bisa hubungi kami ya. Mesin Crumble,  

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.